Mudah kok,menyampaikan pernyataan yang memikat hati nurani rakyat,Anda tidak perlu berempati,cukup bersimpati.

Empati tentu bisa jika kita sendiri sudah pernah merasakan langsung. Simpati “hanya” butuh menakar,mengira-ngira perasaan kita dan lawan bicara kita.

Kira-kira sendiri,apa rasanya dalam situasi orang yang baru saja ditibani masalah kemudian si peniban bilang:”go figure!” (nah lu pikirin aja dah ndiri, gua mandi dulu yak)

Mengira-ngira, apa rasanya jika seseorang dianiaya dengan kata-kata. Aniaya? Ya.

Karena mengatakan ‘jangan konsumsi cabai’ saat harga cabai naik adalah perbuatan yang:tidak hanya sia-sia,tapi juga aniaya.

Siksa, sakiti, aniaya. Kata-kata pun bisa menganiaya. Belum tentu karena diksi, tetapi bisa jadi karena pelontar kalimatnya-atau dalam hal ini- jabatan yang dimiliki pelontar kalimatnya.

Apa untungnya sakiti hati petani dengan bilang ‘jangan makan cabai’? Mengapa sakiti hati masyarakat dengan bilang ‘jangan makan cabai’?
Seberapa dangkal otak seseorang untuk mengeluarkan pernyataan yang demikian aniaya?

Sungguh, sekali lagi, mudah menjadi pemimpin yang berakal sehat, walaupun lebih mudah jadi pemimpin lemah otak.

Saya mendambakan pejabat pemerintah yang berkata:

“sebagai petugas yang menjabat posisi penting dalam hal ini,saya pribadi memohon maaf atas kelalaian saya melayani masyarakat,komentar dari saya tidak akan bisa mengurangi rasa kesal pihak produsen maupun konsumen cabai.
Tetapi bisa dipastikan, setiap langkah kami dalam kementrian adalah langkah menuju perbaikan kelayakan hidup penduduk Indonesia. Seandainya kami belum cukup mampu hari ini, sedalamnya, saya mohon maaf. Atas nama kementrian, saya berusaha memanfaatkan waktu menguraikan masalah ini agar lebih banyak pihak merasa kami mengambil jalan terbaik.”

Mudah tidak? Atau lebih mudah jadi manusia lemah otak?

Leave a Reply



1