Tidakkah Orang Dewasa Membingungkan?

Orang dewasa adalah alasan saya tidak mau jadi orang dewasa. 

Orang dewasa harus perhatikan penggunaan kalimat:”Anak-anak,teruslah bermimpi!”»Sungguh perintah yg membingungkan!

Tidakkah bermimpi membutuhkan banyak tidur? 

Alfa,Beta,Gamma,Theta?Sedemikian banyak gelombang yg harus diselami sebelum akhirnya bisa bermimpi. Dan kalian orang dewasa akan mengacaukan di tengah pesta gelombang tersebut dengan alasan: “Ayo, nanti terlambat!”

Tidakkah mereka tahu kalau terlambat massal akan menyebabkan ketidakterlambatan? 

Baru sedetik usai mereka perintahkan agar terus bermimpi, orang dewasa datang ke sekolah dengan nyanyian tentang betapa pentingnya: bangun. “Bangun Pemudi-Pemuda”, “Bangun Hari Sudah Siang” (memang kenapa kalau siang?), “Oh Mr.Sun”… Belum lagi hari-hari khusus yang sulit dilakukan sambil tidur:Hari Kebangkitan Nasional, Hari Keluarga, Car Free Day,Sumpah Pemuda, …

Orang dewasa tak pernah patah semangat membangunkan anak2 setiap pagi, membuat kita berfikir, ada yg salah dengan masa kecil mereka. Di mana weekend yang kalian banggakan itu? Jumat? Rabu? Siapa bilang kami harus bangun?

Sepertinya mereka dendam dengan kita yg sedang “terus bermimpi”. Sesuatu yang mereka gembar-gemborkan sendiri. Sesuatu yang mereka pesankan ketika mereka sedang sukses berkarir. Karir yang didongkrak mafia. Tapi siapa peduli.

Orang dewasa nampak begitu tahu segalanya tetapi  tidak bisa membuat keputusan dan menjadikan kita, anak-anak, korban. Wahai orang dewasa: “apakah aku terlihat seperti negara dunia ke-tiga?”

Tetapi mungkin juga ini semua salah kita anak-anak. We are from the kill joy club. Tidak ada bayi yang senang tidur. Setiap dua jam, bayi (apalagi yg baru lahir) menangis dan memupuskan harapan tidur orang tuanya.

Tidur seperti bayi selama ini salah pemaknaan. Tidur seperti bayi bukanlah tidur lelap 10 jam, tidur seperti bayi adalah:”aku yang bangunin kalian, bukan kalian yg bangunin aku, good night!”

Lalu orang dewasa berkata,”kita tidak akan diperintah oleh makhluk lembut wangi tak berdaya ini! Mari bikin sesuatu agar mereka tidur sesuai keinginan kita! Aku suka begadang tetapi dengan alasan selain bayi!”

…dan berhasil! 5, 10, 15 tahun, anak-anak membesar dengan keyakinan: tidur itu ada gunanya. Dan anak-anak mulai menuruti orang dewasa di sekitarnya, memberikan kesempatan agar “orang dewasa” bisa mendidik anak-anak agar siap menjadi orang dewasa berikutnya. 

Mengapa harus siap? Entah. Hmm..Karena orang dewasa itu tergantikan?-..-

Orang dewasa meyakini anak-anak tidak bisa mengatur dunia. Padahal mereka sendiri sadar, mungkin
Sebaiknya anak-anak saja yg menjadi pemimpin. Lihat budaya trulku! Penceramah cilik! Penyanyi cilik! Wow. Mereka pemimpin ekonomi dan sosial yang tidak bisa memegang telinga sendiri jika harus melintasi ubun-ubunnya sendiri! Aneh tapi nyata!

Ada juga,sih, yg melihat peluang ini: beberapa orang dewasa meyakinkan anak-anak u/ gantikan tugas orang dewasa karena anak-anak akan dengan tulus tidak minta bayaran. (Yiha! Mereka tak tahu konsep uang!) tetapi sebagian dari org dewasa tipe ini masuk penjara.

Mungkin orang dewasa lelah dan ingin segera ke tahap berikutnya,tahap yang dijanjikan org2 dewasa sebelum mereka: pensiun.

Sebagian dari kalimat,”cepat besar,ya!” mengandung:”Aku bosan, capek, sekarang giliranku yang pakai popok!” sebagian besar dari orang dewasa tipe ini punya asuransi.

Orang dewasa selalu menentukan apa yg harus dipikirkan anak-anak, sesuatu mengenai masa depan yang suram,sambil sesekali mengatakan:”masa kanak-kanak adalah masa terindah.”

Pasti ada yg salah dengan orang tua mereka.

Anak-anak tidak lahir dengan keinginan untuk menciptakan ras diskriminasi,’kan? Anak-anak lelaki tidak keluar dari ranjangnya dan berkata: “aku ingin rendahkan martabat perempuan!” ‘kan? Tidak ada anak yang berkata:”aku tidak mau bergandengan tangan denganmu,miskin!”. Tidak kecuali mak bapaknya ngajarin gituan.

Itu semua kerjaan orang dewasa. Peperangan, ekonomi, penyiksaan, sampah yang tidak didaur ulang, semua karena orang dewasa.

Kejahatan tidak datang dari jantung kecil yang berdenyut 100kali per 30 detik. Bahkan orang dewasa juga yang habiskan biaya ratusan Dolar untuk meyakinkan: anak setan itu ada!
(Tapi memang saya bukan bule. Konon anak kulit putih cenderung berperangai seram. Apapun itu maksudnya).

Dan kematian selalu menyebalkan buat anak-anak. Anak-anak selalu diharapkan jadi pelipur lara. Sementara kami tak mengerti apa yang harus disedihi.

Tidak ada anak-anak yg benar mengerti apa makna tangis dari orang dewasa.Apakah itu tangis:”Bangsat! Mengapa mati duluan dan meninggalkan aku dengan semua kesulitan ini?” atau tangis:”Seharusnya aku duluan yang mati!”
…semua terdengar sama.

Ingat kan? Anak-anak punya intuisi yg kuat? Di dalam acara penguburan jenazah, anak-anak tidak menangis karena mereka tahu ini untuk yang terbaik. 

Tidak, anak-anak tidak berpikiran jahat seperti,”Satu lagi orang dewasa berkurang.” no no
No. HAHAHA. No.

Walau mungkin memang banyak orang dewasa yang seumur hidupnya merasa dirinya sudah berada di jalan yg benar dan memandang rendah orang yang tak sebenar dirinya.

Orang dewasa memberi banyak, lebih banyak dari yang anak-anak harapkan. (Mainan,teman,cara bicara, logat,…) 

Lalu, di tengah jalan, setelah memberi tahu bagaimana caranya hidup,orang dewasa mengajak kita bicara dari hati ke hati: “tentukanlah nasibmu sendiri,Nak.”
“Apaaa? That’s it?” kalian menyerah hanya gara-gara melihat kisah hidup Michael Jackson? Tidaaak! Aku ingin selalu dalam bimbinganmuuu! Aku juga ingin punya gedung hasil dari penampilanku bernyanyiiii! Aku berjanji akan memberimu pensiuuun! Aku tak mau tentukan nasib sendiri!
***

Tetapi manusia (yang sejak kecilnya selalu di-misinformed oleh pendahulunya ini) , dengan izin Allah, akhirnya membesar juga. (Please, jangan salahkan Allah kalau ada yg tumbuh pendek atau tidak sesuai harapan)

Dunia serasa lebih muat dengan kedewasaan yang dimiliki mantan anak-anak. (sampai tulisan ini dimuat,belum terdeteksi manusia hasil kloningan, jadi mari menganggap tidak ada ‘mantan anak’, adanya ‘mantan anak-anak’ dgn asumsi semua orang dewasa adalah anak-nya sepasang orang)

Seorang anak yang telah mendewasa, sudah pernah ditampar,  sudah lulus sekolah, sudah pernah bertualang, dan semoga, sudah pernah jadi anak-anak.

Setelah masuk ke “Dunia Dewasa”, setiap anak masuk dengan rasa bersalah sebesar koper:
1. Bayarlah kebaikan orang tuamu. Tak percaya mereka baik? Ini tagihannya
2. Apapun yang diajarkan di sekolah soal keadilan, ia tetap bapakmu.
3. Jangan lampiaskan amarahmu pada cucu kami
4. Oya, ini daftar dosa besar, di dalamnya ada yg membahas soal kami-orang dewasa- Baca, deh.
5. Jangan jadi seperti yang lain. Cukup! Jangan meniru orang dewasa lain. Tapi tirulah pahlawan dan kepahlawanannya. Be yourself, but not be yourself for too long. We might not like it.

Tidak, tidak ada orang tua normal yang menanamkan rasa bersalah pada anaknya sedemikian rupa. Tetapi seperti itulah kedewasaan melanda hidup manusia.

Anak-anak bisa memasuki kedewasaan lalu membuka kopernya dan menyusun apa yang diperlukannya (biasanya ini kelas anak-anak yang lebih beruntung dan berhasil), atau melempar kopernya ke pinggir jalan dan mengenai sapi yang sedang merumput(ini sisanya).

Semoga anak saya tidak membaca tulisan ini.

N.B.: kekerasan pada anak-anak tidak mengenal gender maupun strata sosial.Kita orang dewasa harus melindungi anak-anak,di mana pun, kapan pun. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, bukan pula konsumsi anak-anak apalagi orang dewasa yang kekanak-kanakan.

1