In order to have something u have to  make something

If you wanna make something you will need some things.

Look around, sweetness,
there are plenty of things to deny.

Let’s make something,something some people called love.

Believe there’s nothing impossible.
There is a reason why God created you

There’s a reason why God rebuilt you

We are little Gods,powerless little Gods.

Hey, let me ask you,
How far is it from my house to yours?

How far is it from your lips to mine?

Funny how i have measured everything but this.

How much time will it take
From here to your room
I just wanna look at you,
Let me just look at you, cause

You’re my beautiful nightmare
Dreams i wanna live in

Beautiful nightmare
Kiss so sweet, i wanna be in

You’re my beautiful nightmare
So wrong,so real and so blunt.

You’re my beautiful nightmare
Come back to me tonight.

How far is it from your skin to mine?
I feel healthy and happy today.
Let’s make something some people called: love.

What I do in my spare time? Here’s one!

Dari sekian banyak avatar (khususnya dalam hal ini Twitter),  mau tahu apa yang saya lihat?

Berikut ini interpretasi gw terhadap foto-foto kalian (dan foto gw sendiri, yaiyalah) yang kita gunakan untuk avatar di Twitter. Dugaan gw mengenai sifat pemilik akun yang terpancar dari avatar yang ia gunakan.

Petunjuk penggunaan: okay,mungkin 25 kategori saja tidak cukup, mix and match aja, ambil yang menurut lo paling cocok,terus ketawa-ketawa deh.
Oia! Satu lagi: karena ini bukan data dari penelitian yang bisa dibuktikan kebenarannya, tugas lo untuk buktiin: seberapa salahnya si Mila ;P

In random order:
1. Fokus ke area mata (kacamata,tutup mata,mata saja,dst): kuatir sama berat badannya ;)
2. Benda mati: ingin dikenal sebagai pengamat
3. Dagu diangkat:hard worker (jarang tidur:P)
4. Latar belakang pemandangan alam/out door :terencana;punya idealisme yang pada dasarnya mengagungkan nama baik keluarga
5. Dengan orang lain: menyadari ada perubahan besar pada dirinya dibanding 5 tahun lalu
6. Logo/brand:bertindak seperti kantor berita,tercepat dalam menyalurkan informasi penting
7. Aksesori kepala: penuh ide
8. Hadap kiri layar/ke kiri luar layar/memunggungi twit: menilai orang dari kesamaan selera terhadap keindahan (musik, makanan, seni rupa) dan mendukung tindakan impulsif
9. Hadap kanan/memandangi twitt: berjiwa kepemimpinan,introvert
10. Foto orang lain : keras kepala
11. Foto masa lalu/zaman dulu: perfectionist,pemersatu dalam kelompok
12. Berkesan telanjang: looking for a father figure
13. Blurry: anak bungsu dan/atau punya kecenderungan mengeksplorasi tubuh (tato/tindik)
14. Telor:percaya diri, konsentrasi dalam hidupnya terpecah untuk (minimal) empat hal
15. Animasi:mendambakan sahabat untuk bertualang
16.a. Senyum:penuh ide
16.b. Tidak senyum:peduli pada proses
17.a. Kelihatan gigi: bosenan
17.b. Tidak kelihatan gigi: mementingkan pendapat umum
18. Menampakkan Punggung: mengutamakan romantisme, kekanak-kanakan.
19. Setengah muka:punya dua account twitter
20. Hewan:suka spontanitas
21. Manusia bertopeng:single dan/atau jenaka

22. Versi komik dari diri sendiri:single/jenaka/ingin perbanyak kawan
23. Fokus pada bibir (menyentuh,memonyong,dst): yang penting kejujuran.
24.Foto studio: ooow! Haha! Okay, this is serious. A. Seluruh badan: siap, punya rencana matang untuk masa depannya sendiri. B. Bukan seluruh badan: puas dengan pilihan hidupnya sekarang

25. Aksesoris (pita,badge,logo kecil,bendera):sports fan/menghargai persahabatan yang penuh rasa humor.

Kamu nomor berapa? :D

Yours truly,

@gamilaarief

Lelaki paruh baya, plontos, kulitnya hitam gosong. Memang begitu harusnya tampilan kulit laki-laki yang tiap hari mencari uang di parkiran Terminal Rawamangun. Badan berisi, bukan gembul. Ramah tamahnya terlatih karena adalah bagian dari pekerjaan.
Bungkuk,tunduk,senyum,tetapi tidak mau diremehkan.

“Lapangan parkir Kantor Dinas Perhubungan Rawamangun,” kira-kira itulah jawabannya jika muncul pertanyaan akan lokasi pekerjaannya.

Empat puluh menit di luar rasanya terlalu lama. Ibu saya mengenakan pashmina tapi sepertinya kami berdua tidak berguna di sana. Sudah selusin,”Dik,mau ke mana,” yang ditujukan pada saya. Lagipula angin terlalu kencang, dan hey, lihat! Ternyata dari dalam mobil pun, arus Bis Kramat Jati bisa terlihat.

“Boleh saya pindah parkir (ke tempat teduh),Pak?”ujar saya. Seolah memberi pertanyaan padahal pernyataan.

Dengan senyum lebar, ia menengok ke arah saya, menunjukkan setuju, tapi senyumnya juga menyiratkan,”Mohon tunggu, saya tengah menerima uang dari pengemudi motor bebek di depan saya,be right with you.”

Jam sebelas siang bukan kepalang, saya harus pergi, tapi kerabat yang ditunggu ibu saya belum kunjung tiba.
“Pak,di mana tempat duduk yang teduh? Kasihan ibu saya kena angin di sana,” merujuk pada tempat duduk terminal yang cocok untuk pilek, campak, toxo, atau sekadar tes antihistamin dalam tubuh.

“Oh,mau duduk?” jawaban tanpa solusi. Sama seperti tadi, saya hanya mendapat perhatian punggung dan wajah dia karena tangannya sibuk mengurus arus lalu lintas parkiran. Tapi senyumnya lebar, sih, giginya putih.

“Nggak usaah!” ibu saya mengejutkan. Setengah marah setengah malu meminta saya batalkan request “sok asik” saya itu.

Ya sudah, saya sudah harus berangkat. Hand phone ketinggalan,anak musti dijemput, belum sarapan, too much pressure. Dengan berat hati saya meninggalkan mama di terminal. (Bravo, Mila! Semoga cicak mati di garasi tadi pagi tidak berarti apa-apa.)

Gigi satu, perlahan seperti layaknya profesional, menyamakan kecepatan dengan langkah kaki ibu saya kembali ke ruang tunggu. Ruang; bukan kamar. Bodohnya saya tidak bawa kamera. 

“Bu,”cegat seorang lelaki agak mengagetkan.
“Oh, ambil karcis di luar, serahkan kertasnya di sini,ya,” asumsi saya dalam hati.
Saya senang bicara soal karcis karena saya tidak seperti Gamila 2002, Gamila yang ini ingat di mana naro karcis.

Tidak terhibur dengan karcis saya,lelaki (yang entah dia pendek atau berdiri di tempat rendah, tapi hampir sulit merasakan kehadirannya) itu merajuk,”bayar peron dulu,Bu, dua ribu,” ia tidak mau menatap mata saya. 

“Mana karcisnya?”minta saya demi rasa keadilan. (Selain memang saya orangnya rese.)
Laki-laki tadi tidak menjawab, malah langsung buang muka untuk memanggil orang lain,”Lay! Minta karcis!” 

I have a bad feeling. Perasaan yang muncul saat ada yang bohong.

Datanglah lelaki botak tadi. Kalau ada honoris causa untuk dunia perparkiran, mungkin ia salah satu laureate-nya.

“Bayarnya dua ribu,Mbak,”gerak mulutnya dibuat jelas, tetap dengan senyum  a la Polo pelawak. 

I just had to ask,”karcisnya mana?”

“Nggak ada,” jawab Pak Botak disertai satu detik mangap sisa huruf ‘a’ dari kata terakhir.

“Berarti ini ilegal dong?” dua ribu di tangan kanan saya sedang menunggu. Semoga sedikit senyum saya menunjukkan saya bukan (lagi) perempuan judes. 

(**Saya tidak menyangka bisa hidup di zaman di mana dua uang seribuan dijadikan satu lembar dua ribu rupiah.)

Anyway, oleh Pak Botak, uang itu diambil lalu dilemparkan ke dalam mobil saya. Jatuh di area kaki kanan saya. Matanya menatap AC di kanan saya.

Glad to see someone with dignity. 

(Buat yang penasaran, ibu saya pulang selamat naik taksi ke rumahnya bersama kerabat yang ditunggu-tunggu tersebut. Kramat Jati telat satu setengah jam dari Malang. Tidak ada ciri khusus dari bis, tetapi sms dari keponakan si kerabat berupa nomor plat bis ybs ternyata amat membantu)

Apa adegan film horor yang paling menyeramkan?

Adegan horor yang paling berhasil: ketika KAMU ada duanya.

Ketika ada dua orang bukan kembar dalam satu ruangan, dijamin penonton pucat tiga detik.
***
Kita manusia diajarkan untuk percaya:tidak ada satupun manusia yang sama kendati kembar sekalipun.

Ucapan:”Semoga ada Gus Dur-Gus Dur berikutnya” atau:”Inilah Kartini masa kini!” memang romantis,tetapi bayangkan,bukankah mengerikan bila itu jadi kenyataan?

Menyaksikan grup tari Diversity menyadarkan saya: walaupun mau menyamakan,manusia tidak mau disamakan.

Saya berusaha keras untuk memuja keunikan kehidupan setiap manusia.

Mudah kok,menyampaikan pernyataan yang memikat hati nurani rakyat,Anda tidak perlu berempati,cukup bersimpati.

Empati tentu bisa jika kita sendiri sudah pernah merasakan langsung. Simpati “hanya” butuh menakar,mengira-ngira perasaan kita dan lawan bicara kita.

Kira-kira sendiri,apa rasanya dalam situasi orang yang baru saja ditibani masalah kemudian si peniban bilang:”go figure!” (nah lu pikirin aja dah ndiri, gua mandi dulu yak)

Mengira-ngira, apa rasanya jika seseorang dianiaya dengan kata-kata. Aniaya? Ya.

Karena mengatakan ‘jangan konsumsi cabai’ saat harga cabai naik adalah perbuatan yang:tidak hanya sia-sia,tapi juga aniaya.

Siksa, sakiti, aniaya. Kata-kata pun bisa menganiaya. Belum tentu karena diksi, tetapi bisa jadi karena pelontar kalimatnya-atau dalam hal ini- jabatan yang dimiliki pelontar kalimatnya.

Apa untungnya sakiti hati petani dengan bilang ‘jangan makan cabai’? Mengapa sakiti hati masyarakat dengan bilang ‘jangan makan cabai’?
Seberapa dangkal otak seseorang untuk mengeluarkan pernyataan yang demikian aniaya?

Sungguh, sekali lagi, mudah menjadi pemimpin yang berakal sehat, walaupun lebih mudah jadi pemimpin lemah otak.

Saya mendambakan pejabat pemerintah yang berkata:

“sebagai petugas yang menjabat posisi penting dalam hal ini,saya pribadi memohon maaf atas kelalaian saya melayani masyarakat,komentar dari saya tidak akan bisa mengurangi rasa kesal pihak produsen maupun konsumen cabai.
Tetapi bisa dipastikan, setiap langkah kami dalam kementrian adalah langkah menuju perbaikan kelayakan hidup penduduk Indonesia. Seandainya kami belum cukup mampu hari ini, sedalamnya, saya mohon maaf. Atas nama kementrian, saya berusaha memanfaatkan waktu menguraikan masalah ini agar lebih banyak pihak merasa kami mengambil jalan terbaik.”

Mudah tidak? Atau lebih mudah jadi manusia lemah otak?

Changes-Gamila

At what year did you hold on to 
At what time did you stop

I know people wanna be
(staying) safe in the same direction

Tomorrow isn’t today
(it’s) sure is not yesterday

*There’s always something 
I just wanna be in my way
But I can’t seem to get things figured out 
And people only care when nothing’s wrong
Well I know something’s for sure
/Well I can’t take it

**Changes, do you deal with
Changes, did you deal with
Changes, I wanna know, I wanna know

Growing up and growing old
Going down in the same direction
People walk, try to stay on track
They all crave for the wold of perfection

whatever happened to the day before yesterday ->*, **

Being fat, being old, being new
Being nice, being someone not you

Being different takes a lot of time
But I don’t know how 
To deal with Change

Changes made me sad
Changes made me blue

Girl, you gotta be strong,
Boy,you gotta keep holding on
Girl you gotta move on, change won’t last forever.

Boy, you gotta be strong,
Girl,you gotta keep holding on
Boy you gotta move on, change won’t last forever.

My mother was pregnant with her first child.
She told me I was made with love.
She was a happy go lucky pregnant lady.
She could (and she did) eat the whole cake.
Whatever the german cuisine it was.

She’d thought about naming her first child Esme.
Many names came across. Windy was one of them, ‘cos it would make perfect sense, mom’s Winneke, dad: Didi,so.

But Esme. Is actually cute,right? Well..try saying it!
‘Esmeralda’..Esme..ralda..
Imagine how my whole life would be, carrying that name around,telling you,”Call me Esme.”
But thanks to Professor Hammad,my dad’s professor back in Germany,long story short,”Call me Gamila.”

And thanks to groups of creative people, I’m also known as Mila,Gam,Gammy,Honey,Baby,Yo,etc etc. Go figure.

One thing (I hope) I am not: GAgal MIlih LAlaki.

1